

(via forever90s)
Rasanya aku ingin mengabur membaur ke dalam pelukan mereka.
Asal kalian tahu, anak ini mengidik ngeri.
Persimpangan itu sudah terlihat
Ada yang berlari menuju gerbang kesana
Ada pula yang sekadar melenggang diatas jalur karpet merah.
Dan semuanya bentur membentur,
Ikhlas dan cemburu ; Realita dan Ilusi ; Sekarang maupun nanti
Jangan sampai mereka tahu
Ini anak yang dulu, mampu dan berani
Sekarang sanggup juga bergidik ngeri.
Cuma bisa disini duduk berpuisi
Tapi bukan salah keduanya.
Ah, akan aku simpan saja keluh kesahku
Sambil berlindung lagi minta didoakan.

(Source: youjustinspiredme, via loveisntamaybething)
Karma kapan kamu tiba?
Aku ada satu nama yang perlu kamu tuju.
Kamu tidak keberatan kalau itu temanku, bukan?
Tunggu
Tapi, biar aku tarik namanya dari daftarmu
Kamu tidak perlu mengunjunginya
Kesabaranku sudah pulih
Ikhlasku sudah kembali
Dan, semoga jangan pernah diuji lagi
Setidaknya
Untuk sekarang.
Suatu saat kata kata itu akan terkecap
Dengan rasa samar dari puncak keangkuhan
Mengiris perih
Menampar,
Hingga manusia terbangun sadar
Di alam yang dinamakan realita
Suatu hari akan hadir seseorang
Dengan segala kekuatan yang ia punya
Yang mampu menggetarkan
Yang sanggup memorak-porandakan
Segala semesta yang sudah dibangun
Ikhlas dan sukarela
Katakan kepada keparat itu,
mati bukan pilihan.
tapak pertama ini adalah keputusan
dan langkah maju adalah akar dari sesal mereka
Aku tidak bersama mereka
Yang harus mengetuk sebelum masuk
Yang harus mencari dan menemukan
Aku berpulang dengan mereka
Yang menikmati segala kemudahan
Yang bermandikan segala kegemerlapan
Setidaknya, itu yang aku inginkan
Karena, di depan pintu mereka aku tersungkur
Baru saja menghantam perut bumi
Mendarat secara paksa, terhina
Sementara yang lain masih sempat menghibur,
Yang gagal membunuhku, adalah kekuatan baru
Sementara satu yang mereka lupa,
Masih hidup, atau sudah mati aku?

(via loveisntamaybething)